Bersepeda di Leiden Belanda

Gowes di Leiden

 Leiden sebagai kota sepeda memang tampak sekali begitu saya keluar dari stasiun Leiden CS (centraal stasiun). di depan stasiun, persisnya sebelah kiri, di bawah  tempat mangkal taksi dan di seberang jalan, ada tempat parkir sepeda  dengan desain unik: bertingkat.

Awalnya saya tidak berniat untuk gowes apalagi punya sepeda di Leiden.  Mengingat di sana saya hanya tinggal tiga bulan saja.  Minggu pertama dari tempat kos di Koningstraat ke kampus dan KITLV di sekitar Witte Singel  saya tempuh dengan jalan kaki-sekitar satu kilometer lebih sedikit.  Kebetulan pemandangannya luar biasa indah bagi pendatang baru seperti saya. Sebagai turis, tahapan awal pengalaman pendatang, saya antusias memotret pemandangan kota terutama di sepanjang kanal yang berjajar.  rumah-rumah model town house berjajar rapi dan warna warni memang menarik untuk dipotret. dan hasilnya saya upload ke facebook.

Saking banyaknya foto itu sampai-sampai kawan di Bandung pada nanya, “hei, kapan kuliahnya kok jalan-jalan melulu.”  saya jawab sambil ngakak, “ini teh pemandangan menuju kampus, tau!” haha. terima kasih kepada kamera saku digital yang motret ga perlu film.

Akhirnya saya pakai sepeda juga. kebetulan kawan (baru kenal di kota itu) yang pulang karena di drop out dari Universiteit Leiden, yang kamarnya saya isi  juga manawarkan sepedanya.   Atas desakan teman kos (mahasiswa tingkat master) yang semua bersepeda ke kampus, saya beli.  mereka ingin kami berangkat bareng ke kampus atau KITLV.  Saya sih tidak merasa harus pakai sepeda, lagi pula saya hanya peneliti tiga bulanan, bukan mahasiswa reguler seperti mereka dan menikmati pemandangan kota  leiden lebih sedap dengan jalan kaki. 15 euro (waktu itu kurs rp 14.000an) katanya murah untuk sepeda meski tidak baru. awalnya saya kurang nyaman karena sepeda itu tidak pakai rem tangan tapi dengan sistem menarik pedal ke belakang-saya kenal itu model sepeda torpedo. jadilah saya bersepeda ke kampus atau KITLV atau ke supermarket dan berkunjung ke kenalan baru orang Indonesia yang tinggal di sana.

 

Desember 2009, salju turun malam hari. jalan di sekitar komplek rumah kos dari batu bata tertutup salju,  sepeda yang diparkir berjajar pada tempatnya di depan rumah tertutup salju, seperti juga mobil yang diparkir paralel.   paginya hujan turun. saya ngeri harus gowes di atas salju karena tidak biasa. selama musim salju itu saya kadang-kadang saja pakai sepeda. selebihnya kembali jalan kaki sambil menikmati salju di atas permukaan jalan. ah, sebenarnya bukan menikmati, karena jalan harus hati-hati karena trotoar jadi licin bila setelah salju turun terus hujan.

suatu hari ada acara kunjungan ke rumah kenalan orang bandung yang hari itu ulang tahun. Dia tinggal di Leiderdorp bersama istrinya dan tiga anaknya.  Berempat menuju ke rumahnya, malam hari. Meskipun terang dengan lampu,  saya tidak bisa gowes ngebut, karena sistem rem pedal itu tidak pernah membuat saya mahir. tiga kawan sering nunggu di depan. hehe.

sepeda saya dilengkapi kunci gembok. dan dinasihati supaya kunci itu dipasang tiap parkir. tapi karena rada sulit, saya jarang menguncinya.  kawan-kawan leiden bilang, pencurian sepeda statistiknya tinggi di leiden dan belanda. tapi konon, polisi tidak menganggapnya tindakan kriminal. haha. ada cerita orang sana, bahwa kalau mau sepeda gratis tapi kuat dingin, coba saja terjun ke kanal. pasti di dalam kanal bakal nemu sepeda. haha. konon karena anak muda belanda kalau mabuk, suka melemparkan sepeda yang kebetulan diparkir dekat kanal dan kuncinya tidak dikaitkan pada tempat parkir atau pohon. hehe. kanal itu sering dirawat dari pendangkalan.  salah satunya dengan cara mengangkat sampah dari dalam kanal, nah salah satu sampahnya adalah sepeda. haha.

kegiatan saya sehari-hari ikut kuliah di program master indonesian studies dan riset pustaka di kitlv dan perpus univ leiden dan tempat lain seperti arsip nasional den haag, dan perpus tropenmuseum di amsterdam. kegiatan yang setengahnya jalan-jalan.  biasanya ikut mahasiswa master yang punya acara sama. nebeng mereka karena mereka punya kartu langganan kereta (NS, nederlands spoor). Dengan kartu itu, tiket diskon 40 persen dan berlaku buat tiga orang. lumayan. dari rumah kos, kami bersepeda ke stasiun yang tidak sampai satu kilometer. parkir di tempat sepeda dan berangkat-pulang dengan kereta. pernah ketika salju tebal turun, sepeda saya inapkan di tempat parkir itu, pulang dengan jalan kaki. parkir sepeda gratis. di beberapa tempat parkir sepeda sering melihat sepeda yang sama, sepertinya tidak diambil atau yang pakai pergi lama.

tiga bulan berlalu hampir tanpa terasa. terasa bangetnya karena rasa sengsara juga: heater di rumah tua itu rusak dan mesin heater kalau dinyalakan, listrik lantai tiga (attic) tempat saya dan dua kawan lainnya mati.  saya minta dua kawan di kamar sebelah silahkan menyalakan mesin pemanas, kamar saya tidak usah.  ”kamu kamu kan mahasiswa beneran di sini, saya cuma turis aja kok.” kata saya. saya pakai lilin di kamar. saking banyaknya, sampai kawan kos bilang saya dukun yang akan manggil roh JP Coen dan gubernur jenderal di hindia belanda lainnya. hahaha.

bersepeda di leiden memang nyaman dan mengasyikan. jalur sepeda ada di semua jalan utama, diberi tanda garis putih. sepeda motor yang relatif jarang, menggunakan jalur sepeda juga. sepeda motor sebagian dipakai oleh orangtua, dengan desain yang khas yang berbeda dengan sepeda motor di kita. ketika pulang, saya umumkan di milis ppi leiden, mau ngasih sepeda itu buat yang mau ngisi kamar saya, tapi ada yang beli 15 euro juga, mahasiswa indonesia program Phd fisika).

Pengalaman paling mengesankan bersepeda di Leiden adalah ketika dibonceng oleh supervisor saya, Prof Dr Peter JM Nas dari kantornya di Faculty of Social and Behavioural Sciences jalan Wassenaarseweg ke KITLV. Semula saya menolak karena merasa tidak enak menjadi beban dan  masih kuat dan senang jalan kaki, tapi Prof Nas bilang, "Come on, it's common here in Netherlands." katanya. Jadilah saya dibonceng sepeda Prof Nas menyusuri jalan berbatu dan bata di kawasan Leiden Lama

 

Dimuat rubrik Boseh Pikiran Rakyat Minggu 16 Juni 2013