Hikayat Kursi

Hikayat Kursi


oleh Jamaludin Wiartakusumah

BILA dicari, benda apa yang meskipun biasa-biasa saja, tapi begitu menghebohkan dunia politik di Tanah Air, jawabnya adalah kursi. Hanya kursi. Bukan yang lain. Di dunia politik, istilah ’berebut kursi’ sering dipakai untuk meramaikan pemilihan umum (pemilu). Istilah itu bukan harfiah atau perumpamaan, ia benar-benar ’sekadar’ berebut kursi dalam arti sebenarnya. Kenapa kursi? Karena ia memberi tempat bagi kegiatan manusia yang sangat khas, duduk. Karena kursi di DPR berarti seonggok kekuasaan.

Selain oleh manusia, duduk dilakukan oleh hewan berkaki dua seperti monyet, kera, orangutan, dan gorila. Gara-garanya, ya, karena sama-sama memiliki sendi lutut dan pinggul serta postur tubuh relatif vertikal. Di dalam ilmu anatomi, konon ada tulang bernama “tulang duduk” yang letaknya tentu saja di belulang sekitar (maaf) pantat.

Nasib kursi memang beruntung dibandingkan dengan jenis mebel lain. Ia memiliki makna simbolis yang paling bergengsi yang tidak dimiliki mebel lain atau artefak desain lain. “Kedudukan” yang berasal dari “duduk” berarti kekuasaan. Tak heran bila kursi menjadi simbolnya. Istilah dalam perang atau zaman kolonialisasi, menduduki, berarti menguasai, tidak hanya duduk-duduk berjemur di pantai, misalnya.

Kata kursi sendiri berasal dari bahasa Arab, kursiyun. Kata ini terdapat dalam Al Qur’an. Masyarakat kita bahkan mengenal salah satu ayat yang diberi nama “Ayat Kursi”. Dalam bahasa Arab, arash kurshi, diartikan (kira-kira) sebagai tempat yang teramat tinggi, agung dan mulia, lapisan yang di atasnya lagi hanya ada Tuhan.

 

Kursi dan tradisi duduk

Dahulu kala, duduk dilakukan orang pada obyek yang telah disediakan alam, seperti permukaan tanah, batu, batang pohon tumbang, dan sebagainya yang masih dilakukan sekarang di alam terbuka atau di hutan. Kebiasaan duduk di lantai secara dominan dilakukan di masyarakat nomaden, dan masyarakat menetap di Asia, termasuk Indonesia dan penganut agama Islam, karena salah satu kegiatan shalat adalah duduk di lantai. Tradisi ini melahirkan berbagai alas duduk seperti tikar, permadani di Timur Tengah, dan tatami di Jepang. Karena keperluan duduk di lantai, karpet yang sebenarnya sekadar pelapis permukaan lantai supaya empuk diinjak, di kita menjadi alas lantai untuk duduk juga. Kebiasaan duduk di lantai umumnya dilakukan pada masyarakat yang komunal- egaliter yang mengedepankan kebersamaan dan persamaan. Barangkali peribahasa kita, “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” berasal dari duduk jenis ini. Bukan dari duduk di kursi yang memiliki ketinggian yang berbeda sehingga “tidak sama rendah” dan memiliki nilai individual.

Kebiasaan duduk dengan menggunakan fasilitas lutut dan tulang pinggul dan (maaf) pantat lalu berkembang. Pada beberapa situs ditemukan batu dalam bentuk yang diolah yang diketahui sebagai perlengkapan untuk duduk. Belakangan, pada awal kursi mulai dikenal, manusia menggunakannya untuk keperluan kekuasaan. Waktu itu hanya mereka yang memiliki kekuasaan atau kemuliaan saja yang berhak duduk di atas kursi, raja, ratu, atau penguasa jenis lain. Para penggawa cukup berdiri atau duduk di lantai. Ini, misalnya, dapat dilihat pada dinding Candi Borobudur atau piramid di Mesir.

Kursi sebagai media ekspresi

Kursi adalah salah satu dari jenis mebel yang karena memiliki fungsi khas bagi kegiatan manusia dengan segala simbol yang dilekatkan padanya, lalu menjadi media ekspresi para arsitek atau desainer untuk bereksperimen mewujudkan suatu gagasan. Karya-karya mereka membuat kursi-selain hal lainnya-juga lalu menjadi semacam barometer bagi perubahan sosial. Zaman biasanya memiliki ciri umum atau semangatnya, seperti zaman modern yang ditandai dengan kursi karya pelopor Modernisme yang sekarang menjadi klasik. Kursi Barcelona karya Mies van de Rohe dan Grand Comfort karya Le Corbusier, Wassily Chair karya Marcel Breuer, untuk menyebut karya dan nama, menjadi ikon desain modern kubu Bauhaus-Jerman. Adapun, desain kursi yang dianggap prototip desain modern adalah kursi Zigzag dan Merah-Biru karya desainer Belanda, Gerriet Rietveld, yang memvisualisasikan gagasan estetika de Stijl.

http://brcdesigns.com/files/3413/3350/4380/barcelona_chair_m.jpg

Sementara dari Skandinavia, kursi karya Hans J Wegner, Arne Jacobsen-keduanya dari Denmark-dan Alvar Aalto dari Finlandia, serta Bruno Matsson dari Swedia ikut memberi sumbangan besar ke dalam desain modern dengan warna tersendiri. Dari Amerika, muncul nama George Nelson, Charles & Ray Eames, dan Harry Bertoia. Desainer mebel Denmark, Hans J Wegner, dijuluki “Raja Kursi”, karena desain kursi yang dihasilkannya melampaui siapa pun, 500 unit selama 60 tahun kariernya di dunia desain mebel. Wegner memulai membuat desain kursi dengan cara mereduksi dari kursi yang ada untuk dibuat lebih sederhana, baik dari segi bentuk maupun dari segi kuantitas material. “Desain kursi belum selesai sampai seseorang duduk di atasnya” adalah ungkapannya yang sangat terkenal yang menunjuk pada fungsi atau kegunaan sebuah kursi yang bukan apa-apa, hanya untuk duduk.

http://www.regencyshop.com/images/egg2.jpg

Setelah lama tidak terdengar di kancah mebel kontemporer, Perancis muncul melalui karya Philip Starck dengan garis-garis sensual khas Perancis. Sementara, Italia sudah sejak lama terkenal dengan desain-desain yang sangat berani, baik dalam segi penggunaan bentuk dan pemakaian material.

Kursi untuk rumah Indonesia

Meskipun kita tumbuh dalam tradisi mebel berukir yang kuat, kita bahkan memiliki daerah yang terkenal dengan itu, Jepara, kiranya tidaklah berlebihan jika kita juga hendaknya melihat besaran rumah yang ada. Mebel-mebel berukir memerlukan ruangan yang relatif besar. Selain karena warna kayu jati, mahoni, atau nyatoh yang cenderung tua akan memberi kesan ruangan gelap, juga karena masalah keleluasaan visual di dalam ruangan. Mebel yang relatif praktis untuk hunian dengan ruangan yang relatif kecil sebaiknya mebel dengan desain praktis, bersih dari ornamen dan untuk kemudahan mobilitas, mebel yang dapat dibongkar-pasang (knock down).

Salah satu unsur dalam desain adalah nostalgia. Mebel-mebel antik di pasang di rumah untuk keperluan itu mengingatkan pada sejarah. Sebaiknya-seperti juga mebel berukir-tempatkan dalam jumlah sedikit supaya kehadirannya terasa dan dibuat kontras dengan koleksi lainnya.

Dalam desain mebel, ukiran pada permukaannya memiliki makna yang barangkali seperti pangkat dalam baju tentara: semakin banyak, semakin tinggi jabatannya, yang dalam desain mebel, barangkali lebih dipahami sebagai lebih mewah atau semakin mahal. Padahal, belum tentu semakin indah apalagi -ukiran itu-berfungsi praktis.

Kursi dan kenyamanan

Duduk di kursi memang menyenangkan dibandingkan duduk pada batu atau kayu seperti dilakukan di hutan. Akan tetapi, masing-masing orang memiliki daya tahan melakukan duduk. Kursi yang nyaman sekalipun-umumnya didesain dengan mempertimbangkan ergonomi-akan tetap membuat pegal badan karena faktor lamanya waktu duduk berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan masing-masing pemakai. Jok di pesawat atau mobil sedan relatif nyaman, tetapi ketika duduk dari Frankfurt ke Jakarta atau bermobil dari Jakarta ke Bali, seberapa nyamannya jok tetap saja membuat badan pegal. Jadi, bukan kursi yang salah, tetapi Anda duduk terlalu lama!

 

 

Jamaludin Wiartakusumah

Pemerhati masalah desain tinggal di Bandung

 

Dimuat rubrik Desain Kompas Minggu
2 Februarii 2003