Menuju Bandung Kota Budaya

Menuju Bandung Kota Budaya

 

Oleh JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH

 

Kota-kota dunia melahirkan sejumlah orang dalam bidangnya yang turut memberi sumbangan besar bagi kemajuan kota, negara, dan dunia. Sebagai upaya memperindah kota dan untuk mengabadikan mereka yang pernah berjasa dalam bidangnya, biasanya dibuatkan patung di taman atau plaza kota.

 

Sebut misalnya di Copenhagen, Denmark, selain patung raja di depan istana, di tepi trotoar Radhus Pladsen (alun-alun balaikota) Copenhagen terdapat patung Hans Christian Andersen, tokoh cerita anak-anak yang karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

 

Di Helsinki, selain patung Tsar Rusia Alexander II yang berdiri megah di depan gedung senat-sebagai bukti sejarah bahwa Rusia pernah menguasai Finlandia-di Taman Esplanade terdapat patung penyair dan sastrawan besar Finlandia, JL Runeberg. Di kota kecil Toolo terdapat Monumen Sibelius yang didedikasikan untuk Jean Sibelius (1865-1957), komposer terbesar Nordik kebanggaan Finlandia.

 

Taman Kota Bandung tampaknya belum banyak memiliki koleksi patung figur tokoh terkenal yang diangkat dari berbagai khazanah budaya, seperti legenda, cerita rakyat, dan sejarah. Yang sudah ada adalah dari dunia olahraga, seperti patung pemain Persib yang belum cukup mewakili kebanggaan warga Kota Bandung, bukan karena prestasi Persib yang belakangan turun, melainkan hanya mewakili sepak bola.

 

Patung figur tokoh di Bandung masih dapat dihitung dengan jari, di antaranya patung setengah badan Ir H Djuanda di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Dago Pakar, yang mewakili dunia teknokrat perintis, dan R Dewi Sartika, perintis pendidikan kaum perempuan di Taman Balaikota Bandung. Adapun patung Jenderal Sudirman di depan Sesko AD merupakan figur militer yang menjadi bapak TNI, sama halnya dengan patung Husein Sastranegara, salah seorang perintis TNI AU. Patung tentara pelajar di Viaduk tentu untuk mengenang para pelajar pejuang di zaman revolusi.

 

Sangkuriang-Si Kabayan

 

Salah satu yang mungkin dapat ditambahkan bagi Kota Bandung adalah patung figur yang menjadi ikon dalam legenda, sastra, dan intelektualitas yang memperkaya budaya dan sejarah Jawa Barat dan nasional. Dari cerita legenda Bandung, barangkali figur yang layak dibuat patung adalah tokoh dalam legenda Tangkubanparahu, seperti Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

 

Dari dunia cerita rakyat barangkali figur Si Kabayan. Dari seni Sunda, dapat berupa penari jaipong atau tari merak. Daeng Sutigna, sebagai tokoh pembaru angklung tampaknya layak dibuat monumen, selain Mang Koko sebagai maestro musik kecapi. Sementara patung Mang Udjo ditempatkan di Saung Angklung Udjo, Padasuka. Tokoh Mang Lengser akan menjadi sosok menarik yang mewakili upacara adat Sunda.

 

Untuk menentukan wajah dan sosok tokoh dari dunia cerita rakyat atau legenda, barangkali dapat diambil dari pendapat umum mengenai gambaran seseorang sesuai karakternya. Sangkuriang, misalnya, tentu adalah sosok pemuda yang gagah perkasa dan ganteng dengan anatomi orang Sunda, bukan tokoh komik seperti Superman. Demikian juga tokoh Si Kabayan, tentu karakternya sesuai dengan antropometri lokal dan imajinasi kolektif orang Sunda terhadap dirinya.

 

Dari dunia akademis atau intelektual, dapat diambil sosok Prof Dr Husein Djayadiningrat, yang tidak hanya mewakili orang Jawa Barat, tetapi juga Indonesia karena pribumi pertama yang meraih gelar doktor dengan desertasinya mengenai sejarah Banten. Penghulu Haji Hasan Mustapa dapat mewakili dunia pemikiran atau filsafat Sunda. Dari dunia sastra, figur yang tepat mungkin adalah sosok Moehamad Moesa- Hoofdpanghulu Limbangan yang menciptakan karya monumental Wawacan Panji Wulung pada 1862 dan diterbitkan pertama kali pada 1871 oleh Landsdrukkerij (Mikihiro Moriyama: 2005).

 

Dari dunia perjuangan kemerdekaan, Otto Iskandardinata sangat layak dibuat patung. Jarang sekali yang mengetahui bahwa selain perjuangannya di Bandung dan Jakarta di sekitar tahun 1945, ia juga adalah orang pertama yang "menemukan" kata proklamasi untuk naskah yang dibacakan Bung Karno menggantikan kata maklumat yang semula ditulis Bung Karno dan yang monumental, pekik merdeka!

 

Lokasi penempatan patung-patung tersebut yang paling tepat adalah di kawasan Taman Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, dengan posisi berjajar dalam jarak tertentu memanjang di tepi taman ke arah selatan, yaitu ke arah Gasibu. Dengan demikian, monumen dengan desain modern yang gagah tetapi tampak steril dan "sekuler" itu akan terasa akrab dengan masyarakat sekitar sekaligus mendekatkan khazanah budaya yang dimiliki masyarakat Sunda kepada generasi muda. Kota perintis perjuangan

 

Kota Philadelphia, Amerika Serikat, mendapat julukan "the city where America begins" karena kota itu menjadi tempat ditandatanganinya Konstitusi Amerika Serikat pada 1787. Dalam arti luas, dari kota itulah negara Amerika mulai didirikan. Julukan itu tidak untuk gagah-gagahan, tetapi semata untuk memupuk kecintaan warga yang akan melahirkan kepedulian tinggi dan juga untuk meningkatkan arus turis ke kota itu.

 

Selain sebagai kota yang dibangun pada masa kolonial dan menyisakan berbagai bangunan kolonial, dalam konteks sejarah kemerdekaan Indonesia, Kota Bandung juga tampaknya layak mendapat julukan seperti Philadelphia.

 

Perintisan perjuangan kemerdekaan yang memusat pada sosok Bung Karno berawal di Kota Bandung. Ya, Bandung-awal mula Indonesia-karena di Kota Bandunglah Bung Karno merintis pergerakan kemerdekaan Indonesia, dibantu dan didukung teman-teman seperjuangan yang orang Bandung, seperti Gatot Mangkoepraja.

 

Tempat atau lokasi bersejarah harus mendapat perlakuan khusus dan dapat menjadi objek wisata sejarah. Tentu dengan pemugaran seperlunya dan dirawat serta dibuatkan paket wisata sejarah. Kampus THS (sekarang ITB), rumah di Jalan Dewi Sartika bekas tempat tinggal Ibu Inggit Garnasih, yang juga menjadi kediaman Kusno (panggilan Ibu Inggit kepada Bung Karno), Gedung Landraad (sekarang Gedung Indonesia Menggugat), dan penjara Banceuy dan Sukamiskin adalah tempat-tempat di Bandung yang menjadi saksi perjuangan Bung Karno.

 

Juga yang tak kalah penting adalah karya Bung Karno, seperti dua rumah kembar di perempatan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Malabar. Kebanggaan itu semoga melahirkan rasa cinta warga Kota Bandung. Dengan demikian, warga akan turut serta dalam segala upaya meningkatkan kualitas kota sehingga dapat sejajar dengan kota kelas dunia.

 

Hal yang tidak kalah penting adalah menambah area hijau berupa taman. Lahan di bagian barat Gasibu potensial untuk itu, tidak perlu untuk gedung konvensi. Saya kira warga Bandung lebih membutuhkan taman terbuka hijau dibandingkan dengan gedung konvensi.

 

JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH

Dosen Desain Itenas

 

salah satu dari dua gedung kembar yang diperempatan jl Malabar-Gatot Subroto Bandung

--

dimuat KOMPAS Jawa Barat 1 November 2007