Ir. Sutjiati Bunarto
Ir. R. Mansoer Wiratmadja
Darmawan, SH

Institut Teknologi Nasional Bandung didirikan oleh Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi. Itenas pada awalnya merupakan Akademi, yang didirikan pada tanggal 14 Desember 1972 (SK Pengurus Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi No. 01/Kep/DS/1972) dengan nama Akademi Teknologi Nasional (Atenas) yang terdiri dari jurusan Arsitektur, Sipil, Elektro, dan Teknik. Pada saat itu Prof R. Soetodjo, Ir., diangkat sebagai Direktur Atenas.

Pada tahun 1984 Atenas berubah menjadi Itenas (Institut Teknologi Nasional) dan pada saat itu, R. Mansoer Wiratmadja, Ir., diangkat sebagai Rektor Itenas (SK Pengurus Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi No. 01/Kep/DS/1984 tanggal 3 Januari 1984).

Hingga saat ini, Itenas semakin berkembang sebagai Perguruan Tinggi terbaik di tingkat Nasional dan Internasional. Pada Tahun 2019 Itenas masuk pada rangking 100 Perguruan Tinggi Terbaik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Tahun 2019. Itenas mendapatkan peringkat 70.

The Founding Father

Sosok ayah, direktur, dan dosen yang sederhana, rajin, ramah sekaligus tegas.

 

Mansoer Wiratmadja, The founding father.

Itenas menjadi seperti saat ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari peranan para pendirinya, alm. Ir. Mansoer Wiratmadja, bersama Darmawan. SH dan Ir. Soetjiati Boenarto yang bercita cita mulia untuk mendirikan Atenas yang kemudian menjadi Itenas di tahun 1972. Untuk sayang, Haruslah kenal maka Inilah satu dari “The Founding Father”

Bapak Ir. Mansoer Wiratmadja Bin Adnin Wiratmadja, kelahiran Ciomas, Sukabumi Selatan 1 Februari 1923, adalah lulusan Teknik sipil ITB tahun 1955 dan menjadi dosen di Teknik Sipil ITB sejak tahun 1975. Beliau pernah mendirikan perusahaan konsultan Gateni atau Gabungan Tenaga Insinyur pada tahun 1950 yang bergerak di bidang Konsultan Teknik, namun jiwa pendidik yang telah mendarah daging dari keluarga pendidik membawanya pada cita-cita luhur beliau yaitu ITENAS, sebuah institusi tempat mendidik para insinyur tangguh, cerdas, jujur dan berintegritas yang sangat dibutuhkan di Indonesia saat itu.

Beliau aktif dalam memperjuangan pendidikan, mengajar dan mendirikan berbagai organisasi pendidikan, olahraga dan bidang teknologi mewarnai kehidupan masa mudanya. Pak Mansoer muda sangat aktif di Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB) dan sempat mendirikan SMA PMB. Di masa masa perjuangan, beliau sempat mengungsi ke Jogya sambil mengajar di sana dan menikah di pengungsian dengan ibu Rochiat Mansoer Wiratmadja (almh) yang saat itu masih menjadi mahasiswi fakultas Kedokteran UI.

Selama menjadi direktur Itenas, Pak Mansoer dikenal oleh mahasiswa, dosen dan karyawannya sebagai sosok yang sederhana, rajin, ramah sekaligus tegas.

Kecintaannya pada Itenas yang dibangunnya, tercermin dari caranya menjadi contoh bagi para dosen dan karyawan Itenas dengan selalu datang paling pagi, menelusuri setiap bangunan kampus, meninjau kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kampus untuk memastikan semua berjalan dengan baik. Memperhatikan tanaman, merawat bahkan menyiramnya, (Beliau senang kalau karyawan di kebun mengetahui nama nama setiap tanaman di itenas). Beliau kerap menyapa dan bercakap cakap dengan para dosen terutama karyawan yang ia kenal satu persatu namanya, hingga semua mengenangnya sebagai sosok sederhana, ramah dan kebapakan dibalik sosoknya sebagai direktur sekaligus dosen yang tegas dan disiplin.

Beliau selalu mensyukuri dan bercerita kepada keluarga dan para dosen tentang setiap hal menyangkut perkembangan Itenas dari waktu ke waktu, seolah mengajak semua orang untuk turut menyayangi dan menyintai Itenas. Bahkan menginginkan anak anaknya untuk belajar terlibat di Itenas, dari bawah, dari melayani pendaftaran, mengawasi ujian, mengajar dan mengerjakan pekerjaan administrasi. Hal ini menumbuhkan sikap pada keluarga, Bahwa itenas itu bukanlah warisan tetapi amanah yang harus dikelola secara profesional.

Hingga saat terakhir sebelum wafat, Pada tanggal 9 Februari 1995, beliau selalu berpesan pada keluarga, dosen dan karyawan bahkan mahasiswa: “titip Itenas”