RESPON TANTANGAN ERA DIGITAL, ICMI GANDENG ITENAS GELAR SEMINAR NASIONAL "ICMI GOES TO CAMPUS" BAHAS KETAHANAN KELUARGA

ERA DIGITAL, ICMI GOES TO CAMPUS, AI

Respon Tantangan Era Digital, ICMI Gandeng Itenas Gelar Seminar Nasional "ICMI Goes To Campus" Bahas Ketahanan Keluarga

Bandung, 10 Februari 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mendisrupsi berbagai lini kehidupan, Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung berkolaborasi dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "ICMI Goes to Campus". Acara yang berlangsung di Bale Dayang Sumbi Itenas pada Selasa, 10 Februari 2026 ini mengangkat tema krusial, yakni "Ketahanan Keluarga di Era Artificial Intelligence".

 

Kegiatan ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan akademisi, cendekiawan, dan mahasiswa untuk mendiskusikan benteng pertahanan sosial terkecil, yaitu keluarga, dalam menghadapi arus disrupsi teknologi.

 

Rektor Itenas Bandung, Prof. Ir. Meilinda Nurbanasari, S.T., M.T., Ph.D., IPU., dalam sambutan pembukaannya menyoroti dualisme dampak teknologi AI. Menurutnya, meskipun AI memiliki potensi dahsyat, masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap dampak negatifnya. "Kita sudah tahu dahsyatnya AI. Tidak melulu AI berdampak negatif, kita harus bisa memanfaatkan dampak positifnya. ICMI sangat tepat mengambil tema keluarga, karena keluarga adalah fondasi dan sekolah pertama. Etika dan tata krama diajarkan dari sana," ujar Prof. Meilinda. Beliau juga berharap forum ini menjadi ruang diskusi produktif mengenai softskill dan etika. "Sangat penting bagi kita untuk bertahan di era ini dengan tetap memegang teguh nilai-nilai etika," tambahnya.

 

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Ketua Umum ICMI yang juga Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., yang menyambut baik inisiatif ini. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa kampus adalah ruang strategis untuk merespons perkembangan zaman. "Di era AI ini, teknologi berkembang cepat dan berdampak langsung kepada keluarga, termasuk pola asuh. Keluarga menjadi fondasi utama untuk ketahanan digital ini," tegasnya.

 

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Umum MPP ICMI, Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, menekankan pentingnya transfer ilmu di tengah era post-truth. Ia memaparkan tiga fondasi penting yang harus dipegang teguh, yakni Keindonesiaan, Keislaman, dan Kecendekiaan. "Terutama bagi generasi muda, kita harus memiliki visi yang sama. Kita harus bisa mengatur AI, jangan sampai kita yang diatur oleh AI," ucapnya.

 

Sesi inti seminar menghadirkan deretan narasumber pakar yang mengupas isu ketahanan keluarga dari berbagai perspektif. Prof. Dr. H. Didin Muhafidin, S.I.P., M.Si. (Sekjen Dewan Pakar ICMI), memberikan tinjauan religius yang mendalam mengenai moralitas, menyoroti bahaya pergaulan bebas (zina) dengan merujuk pada dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis sebagai peringatan bagi generasi muda.

 

Perspektif kesehatan dan medis disampaikan oleh Dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK (Departemen Kesehatan MPP ICMI). Beliau secara lugas berbicara mengenai pentingnya pemuda yang sehat secara fisik dan moral. Dr. Dewi menekankan gaya hidup anti-zina, anti-LGBT, dan anti-seks bebas guna mencegah penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang kian marak.

 

Sementara itu, Dr. Herawati Tarigan, M.M. (Ketua Koordinasi Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak, dan Lansia MPP ICMI) menyoroti penyimpangan seksual dan agenda politik di balik gerakan LGBT yang dapat mengancam struktur sosial masyarakat.

 

Di sisi sosiologis, Dr. Tuty Mariany, M.M. (Wakil Ketua Departemen Anak MPP ICMI) membahas fenomena sosial yang melanda Generasi Z. Ia menggarisbawahi bahwa kondisi bangsa sangat ditentukan oleh ketahanan keluarga karena generasi saat ini terpapar arus deras media sosial dan teknologi modern. "Kita perlu merumuskan how to alternative solution agar generasi ini tidak hanyut," paparnya.

 

Hal ini diperkuat oleh paparan Fatri Hayani, S.H.I. (Sekretaris Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Lansia), yang menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah menimbulkan disrupsi fundamental. "Teknologi bukan sekadar alat, tapi telah mengubah cara hidup masyarakat dan paradigma berpikir," ungkapnya.

 

Sebagai penutup sesi materi, Prof. Dr. Ir. H. Sutarman, M.Sc., IPU (Ketua ICMI Jawa Barat) Memberikan pandangan praktis mengenai implementasi AI. Ia kembali menegaskan bahwa meskipun teknologi canggih diterapkan, keluarga tetap harus bertindak sebagai institusi pendidikan pertama yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan agar teknologi tetap terkendali.

 

Acara "ICMI Goes to Campus" ini turut dihadiri oleh ratusan mahasiswa Itenas yang antusias mengikuti jalannya diskusi. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan dan organisasi cendekiawan dalam mencetak generasi emas yang tidak hanya cerdas secara digital, namun juga kokoh secara moral dan spiritual. (Humas)

Berita Lainnya