PENGEMBANGAN MEDIA AJAR TATA SURYA BERBASIS TEKNOLOGI MIXED REALITY DI SDIT DAARUL JIHAD UNTUK MEMUNCULKAN  INTERAKSI SISWA DALAM RUANG IMERSIVITAS

PENGEMBANGAN MEDIA AJAR TATA SURYA BERBASIS TEKNOLOGI MIXED REALITY DI SDIT DAARUL JIHAD UNTUK MEMUNCULKAN INTERAKSI SISWA DALAM RUANG IMERSIVITAS

Galih Ashari Rakhmat, S.Si., M.T., Sri Retnoningsih, S.Sn., M.Ds., Dr. phil. Eka Noviana, M.A., Dhimas Aji Ghairrahmat, Maulana Seno Aji Yudhantara, Muhammad Figo Razzan Fadillah, Muhammad Alif Syaikhan, Raka Gaizka Alhallaz, Ariq Zaki Muhamad

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Daarul Jihad adalah lembaga pendidikan dasar yang didirikan pada tahun 2009 dan terdaftar resmi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak 2010. Sebagai sekolah berbasis Islam terpadu, sekolah ini...

PENGEMBANGAN MEDIA AJAR TATA SURYA BERBASIS TEKNOLOGI MIXED REALITY DI SDIT DAARUL JIHAD UNTUK MEMUNCULKAN INTERAKSI SISWA DALAM RUANG IMERSIVITAS

Galih Ashari Rakhmat, S.Si., M.T., Sri Retnoningsih, S.Sn., M.Ds., Dr. phil. Eka Noviana, M.A., Dhimas Aji Ghairrahmat, Maulana Seno Aji Yudhantara, Muhammad Figo Razzan Fadillah, Muhammad Alif Syaikhan, Raka Gaizka Alhallaz, Ariq Zaki Muhamad

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Daarul Jihad adalah lembaga pendidikan dasar yang didirikan pada tahun 2009 dan terdaftar resmi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak 2010. Sebagai sekolah berbasis Islam terpadu, sekolah ini mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pembelajaran modern, dengan fokus pada pembentukan karakter Islami, peningkatan kecerdasan intelektual, dan pengembangan pembelajaran abad 21. Kurikulum yang diterapkan mengadopsi Kurikulum Nasional yang dikombinasikan dengan pendidikan berbasis Islam. Pendekatan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif diterapkan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Selain itu, pemanfaatan teknologi menjadi kesatuan dalam strategi pembelajaran guna meningkatkan kualitas media ajar digital. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa [1].  Lokasi SDIT Daarul Jihad yang strategis, sekitar 20-meter dari JL. Hegarmanah RT 01 RW 11, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Jarak dari kampus Institut Teknologi Nasional Bandung ke sekolah ini sekitar 31-kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Bandung. Pada tahun 2024, SDIT Daarul Jihad menjadi mitra kami dalam kegiatan PKM yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM). Berfokus pada pengembangan media pembelajaran materi Tata Surya berbasis teknologi immersive untuk mengatasi keterbatasan media ajar yang menggabungkan aspek sains dan keagamaan. Tim telah menyerahkan sejumlah aset dan menyelenggarakan pelatihan bagi para guru. Media yang diserahkan terdiri dari: 20 media berbasis Augmented Reality (AR) berbentuk buku dan poster interaktif beserta aplikasi. 2 perangkat Virtual Reality (VR) terdiri dari Oculus Quest 2 dan monitor.  Gambar 1. Kegiatan PKM 2024, (a) Media Berbasis AR, (b) Serah Terima Asset, (c) Media Berbasis VR  Sejak diserahterimakan, media tersebut aktif digunakan dalam proses belajar maupun kegiatan non-formal. Dengan adanya media ini, mendukung strategi pembelajaran abad ke-21 yang diusung oleh sekolah, yaitu pembelajaran berbasis teknologi digital untuk menyeimbangkan kebutuhan jaman dengan visi pendidikan Islam yang holistik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menekankan pentingnya strategi pembelajaran abad ke-21 dalam Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan kualitas pendidikan [2]. Saat tim PKM saat melakukan wawancara dengan pihak sekolah, bahwa integrasi media AR dan VR dalam kurikulum, khususnya untuk materi Tata Surya pada TA 2024, menghadapi tantangan penyesuaian dengan struktur kurikulum. Namun, siswa dan guru secara aktif memanfaatkan perangkat AR dan VR dalam berbagai kegiatan seperti eksplorasi mandiri, hiburan edukatif, dan permainan edukatif. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat literasi teknologi di lingkungan sekolah sudah tinggi. Berikut adalah data mengenai seberapa sering media tersebut digunakan.  Tabel 1. Occupancy media Hibah PKM 2024  Dari tabel tersebut dapat dilihat antusias siswa dan guru pada media tersebut sangat tinggi. Media AR masih terbatas, karena siswa tidak diijinkan membawa smartphone, penggunaan smartphone hanya guru. Berbeda dengan VR, keinginan siswa dan guru untuk menggunakan sangat fleksible, sehingga dilihat dari tabel antusias penggunaan VR memiliki occupancy yang tinggi. Oleh karena itu, Tim PKM melihat ini sebagai modal penting untuk memperluas cakupan pemanfaatan teknologi dalam pengajaran. Dengan demikian, keberadaan infrastruktur awal dan tingkat literasi teknologi yang telah terbentuk menjadi landasan kuat bagi penyelenggaraan kembali kegiatan PKM yang berfokus pada inovasi pembelajaran. Gambar 2. Siswa dan Guru menggunakan media berbasis teknologi di luar jam pembelajaran   Berdasarkan pengamatan guru selama penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi immersive dari kegiatan PKM tahun 2024, ditemukan beberapa hal penting terkait dengan pola pembelajaran siswa saat menggunakan media tersebut, yaitu: Keterlibatan siswa dalam berinteraksi dengan teman saat menggunakan media masih sangat minim. Guru berharap, dapat berkoloborasi dan berinteraksi dengan siswa di dalam ruang digital, agar dapat melakukan pembimbingan materi. Guru menilai bahwa interaksi antar siswa memiliki potensi positif dalam meningkatkan keterlibatan belajar, kemampuan komunikasi, dan kerja sama dalam menyelesaikan tugas.   Berdasarkan hasil diskusi juga, pihak sekolah berharap pada kegiatan PKM 2025, pihak guru dapat dibekali mengenai bagaimana pengembangan media ajar berbasis teknologi. Hal ini dikarenakan, ada guru maupun staf yang berpotensi untuk dijadikan expertise media ajar berbasis teknologi di SDIT Daarul Jihad. Harapannya, dengan pengalaman yang didapati selama proses pengembangan media ajar bersama dengan tim Itenas ini, mereka mendapatkan insight yang menyeluruh mengenai media ajar untuk dikembangkan di internal sekolah. Berikut bagan untuk memperlihatkan situasi terkini hingga perumusan masalah yang akan diangkat di PKM 2025.  Gambar 3. Situasi terkini mitra hasil evaluasi untuk PKM 2025 Kegiatan PKM ini bertujuan mendorong interaksi antar siswa melalui media berbasis teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Guru berperan merancang fitur, sementara tim PKM merealisasikannya ke dalam aplikasi. Tujuan ini pun dapat dikaitkan dengan IKU/IKT, Asta Cita, RIRN, dan SDGs, dapat dilihat pada tabel berikut ini.  Tabel 2. Keselarasan tujuan PKM dengan IKU/IKT, Asta Cita, RIRN, dan SDGs  Indikator Kerja Utama (IKU) dan Indikator Kerja Tambahan (IKT) Perguruan Tinggi  Kegiatan ini mendukung IKU 2 dan IKU 5. Untuk IKU 2, mahasiswa terlibat langsung dalam pengembangan media ajar berbasis mixed reality, memberikan pengalaman belajar di luar kampus minimal 6 SKS. Sementara untuk IKU 5, aplikasi yang dihasilkan merupakan kolaborasi dosen dan mahasiswa, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat serta digunakan sebagai materi ajar atau praktikum di perguruan tinggi. Asta Cita ke-4  Pendidikan & SDM: Melalui peningkatan metode pembelajaran interaktif, bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM sejak usia dini dengan mengajarkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama.  Teknologi & Sains: Pemanfaatan media digital dan teknik pembelajaran berbasis teknologi akan memperkenalkan siswa dan guru pada inovasi pembelajaran. Rencana Induk Riset Nasional (RIRN)  Transformasi Digital dalam Pendidikan, Pemanfaatan teknologi mixed reality ditujukan untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dari sisi interaksi siswa. Peningkatan SDM Unggul dan Kompetitif, hal ini sejalan untuk mendukung agenda RIRN untuk menciptakan generasi yang melek teknologi dan memiliki pengalaman berbasis digital. Penguatan Ekosistem Riset dan Inovasi, ekosistem ini akan dibentuk dan dikuatkan atas sinergi antara perguruan tinggi dengan pihak sekolah. Suistanable Development Goals (SDGs) SDGs 4 Pendidikan Berkualitas, tentunya dengan teknologi ini dapat mendukung akses pendidikan berkualitas yang lebih inovatif.   SDGs 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran mencerminkan inovasi di bidang pendidikan yang mendukung ekosistem digital. SDGs 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, Proyek ini melibatkan kolaborasi antara akademisi, sekolah, dan lembaga pendanaan (Kemdikbudristek/DRTPM), yang mencerminkan sinergi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.  
PENGEMBANGAN SISTEM PENYEMAIAN TANAMAN CERDAS UNTUK MENINGATKAN PRODUKTIVITAS BIBIT TANAMAN PETANI DI DESA JATILUHUR, KELURAHAN PASIR IMPUN, KOTA BANDUNG

PENGEMBANGAN SISTEM PENYEMAIAN TANAMAN CERDAS UNTUK MENINGATKAN PRODUKTIVITAS BIBIT TANAMAN PETANI DI DESA JATILUHUR, KELURAHAN PASIR IMPUN, KOTA BANDUNG

Febrian Hadiatna, S.T., M.T., Noviyanti Nugraha, S.T., M.T., Dr. Choerudin, S.T., M.T., Mohamad Ridwan, Favian Arkan Fadila, Mochamad Java Sabian, Syahrizal Maulana, Arrizky Mulyawan, Mohammad Ilmad Abdul Patah

Pertanian merupakan salah satu sektor penting yang mendukung perekonomian Indonesia. Mitra yang akan diberdayakan dalam kegiatan ini adalah Nur Alam Tani, sebuah komunitas di bidang ketahanan pangan yang berlokasi di Kampung Jatiluhur, Kelurahan Pasi...

PENGEMBANGAN SISTEM PENYEMAIAN TANAMAN CERDAS UNTUK MENINGATKAN PRODUKTIVITAS BIBIT TANAMAN PETANI DI DESA JATILUHUR, KELURAHAN PASIR IMPUN, KOTA BANDUNG

Febrian Hadiatna, S.T., M.T., Noviyanti Nugraha, S.T., M.T., Dr. Choerudin, S.T., M.T., Mohamad Ridwan, Favian Arkan Fadila, Mochamad Java Sabian, Syahrizal Maulana, Arrizky Mulyawan, Mohammad Ilmad Abdul Patah

Pertanian merupakan salah satu sektor penting yang mendukung perekonomian Indonesia. Mitra yang akan diberdayakan dalam kegiatan ini adalah Nur Alam Tani, sebuah komunitas di bidang ketahanan pangan yang berlokasi di Kampung Jatiluhur, Kelurahan Pasir Impun, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. Komunitas ini memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan usaha pertaniannya, namun menghadapi berbagai permasalahan yang menghambat terhadap hasil pertaniannya.  Saat ini, Nur Alam Tani telah mendapatkan izin untuk mengelola lahan hijau milik Pemerintah Kota Bandung guna dijadikan area pertanian. Lahan tersebut terletak di kawasan Kampung Jatiluhur, dengan luas sekitar ±4.000 m². Lokasinya yang berada di dekat aliran Sungai Cisanggarung memberikan keunggulan tersendiri dalam hal irigasi, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Selama bertahun-tahun, warga setempat hanya mampu menanam jenis tanaman yang kurang produktif pada lahan tersebut. Hal ini karena  adanya beberapa keterbatasan pada mitra. Berikut ini gambaran kondisi mitra saat ini, diantaranya: Keterbatasan Akses Teknologi Pertanian Nur Alam Tani masih menggunakan metode tradisional dalam bertani. Hal ini membuat proses pertanian mereka sangat bergantung pada cuaca. Selain itu, teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan pun belum diterapkannya, padahal teknologi tersebut dapat meningkatkan hasil panen dan mengurangi biaya operasional.  Keterbatasan Modal Usaha Omzet yang dihasilkan mitra dari hasil pertaniannya, belum stabil setiap bulannya. Hal ini karena sebagian besar hasil pertaniannya, lebih banyak digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anggota, daripada dijual.  Keterbatasan Akses Pasar dan Pemasaran Salah satu kendala besar yang dihadapi oleh petani Nur Alam Tani adalah keterbatasan dalam mengakses pasar yang lebih luas. Produk pertanian yang dihasilkannya saat ini, baru mampu dipasarkan pada warga sekitar desa Jatiluhur, karena terbatasnya pengetahuan pemasaran dan saluran distribusi. Tanpa adanya pemasaran yang tepat, hasil pertanian yang melimpah seringkali tidak dapat dijual dengan harga yang layak.  Saat ini, Nur Alam Tani berencana untuk mengembangkan usahanya dengan menjual produk berupa bibit tanaman. Pemilihan bibit tanaman sebagai produk yang akan dikembangkan didasarkan pada beberapa alasan, di antaranya: Waktu proses tanamnya relatif singkat, Tidak memerlukan lahan yang luas, dan Petani banyak yang memerlukan bibit tanaman berkualitas untuk mengurangi kegagalan dalam bercocok tanam.  Namun untuk merealisasikan rencana tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapinya, diantaranya meliputi:  Bahan dan Produksi Bahan baku yang digunakan dalam pertanian, seperti benih tanaman yang belum optimal serta kualitas dari media tanam yang digunakan masih kurang. Petani belum sepenuhnya menggunakan jenis bibit unggul yang memiliki daya tahan terhadap penyakit dan cuaca ekstrem. Proses penyemaian yang dilakukan masih manual, yaitu dengan cara menabur benih secara langsung ke tanah, yang memakan waktu lama dan tidak efisien.       Proses dan Teknologi Proses produksi pertanian mereka belum didukung oleh teknologi yang memadai. Sebagian besar petani belum menggunakan alat pertanian modern seperti mesin penanam atau alat semai otomatis. Hal ini menyebabkan proses penyemaian menjadi sangat tergantung pada tenaga kerja manusia dan menghabiskan waktu yang lebih lama. Selain itu, belum tersedianya greenhouse untuk penyemaian, sehingga cuaca dan hama akan mempengaruhi kualitas bibit.  Pemasaran Pemasaran produk mereka terbatas pada pasar lokal, yang seringkali menjual dengan harga yang lebih rendah karena ketidaktahuan tentang cara memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas.  Berdasarkan kondisi mitra dan permasalahannya yang ada saat ini, maka tujuan pelaksanaan kegiatan yang ditargetkan adalah meningkatkan efisiensi pada proses penyemaian yang akan dikembangkan oleh Nur Alam Tani, serta membantu proses pemasarannya. Tujuan tersebut sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), diantaranya: SDG 2: Tanpa Kelaparan Peningkatan produktivitas pertanian akan berkontribusi pada ketahanan pangan, yang membantu mengurangi kelaparan dan meningkatkan ketersediaan pangan bagi masyarakat sekitar. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Peningkatan hasil pertanian dan penerapan teknologi baru, berpotensi untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Sistem pertanian yang dikembangkan, mendukung terhadap pertanian yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya alam, seperti air dan tanah, serta mengurangi pemborosan dalam produksi pertanian. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional melalui teknologi pertanian yang berkelanjutan, dengan fokus permasalahan yang diambil adalah bagaimana teknologi dapat mengatasi kendala-kendala yang dihadapi oleh mitra, seperti keterbatasan sumber daya, pengetahuan, dan akses pasar. Hal ini sejalan dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang salah satu fokus bidang pembangunannya yaitu pada masalah pangan. Selain itu juga mendukung Asta Cita dalam memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan ekonomi hijau.  Program kegiatan masyarakat ini sangat bermanfaat bagi pembelajaran mahasiswa, setidaknya terdapat dua indikator kinerja utama (IKU) yang dapat tercapai, yakni IKU2 dan IKU7. IKU2 yaitu mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus. Mahasiswa akan memiliki pengalaman belajar di luar kampus minimal sebanyak 6 sks. IKU7 yaitu Kelas yang Kolaboratif dan Partisipatif Mata kuliah yang menggunakan metode pembelajaran proyek (team-based project). Adanya mahasiswa yang dilibatkan dari tiga program studi yang berbeda pada kegiatan ini, akan baik untuk melatih kolaborasinya. 
ALAT KOMUNIKASI BAWAH AIR MENGGUNAKAN CAHAYA TAMPAK

ALAT KOMUNIKASI BAWAH AIR MENGGUNAKAN CAHAYA TAMPAK

Lucia Jambola, S.T., M.T., Lita Lidyawati, S.T., M.T., Dini Fauziah, S.Pd., M.T., Nadira Desti Prima Putri, Likusa Zulkinurda

Negara Indonesia sendiri terdiri atas 17.500 lebih pulau yang diminati para wisatawan untuk menyelam, salah satunya Laboan Bajo. Pada tahun 2023, aktivitas penyelaman di kedalaman laut (diving) dan di permukaan laut (snorkeling) telah mencapai 24.000...

ALAT KOMUNIKASI BAWAH AIR MENGGUNAKAN CAHAYA TAMPAK

Lucia Jambola, S.T., M.T., Lita Lidyawati, S.T., M.T., Dini Fauziah, S.Pd., M.T., Nadira Desti Prima Putri, Likusa Zulkinurda

Negara Indonesia sendiri terdiri atas 17.500 lebih pulau yang diminati para wisatawan untuk menyelam, salah satunya Laboan Bajo. Pada tahun 2023, aktivitas penyelaman di kedalaman laut (diving) dan di permukaan laut (snorkeling) telah mencapai 24.000 aktivitas [1]. Permasalahan yang ada bagi penyelam, masalah komunikasi sering kali menjadi masalah yang paling sulit diatasi karena hanya ada sedikit pilihan untuk mengirimkan pesan di bawah air.  Di atas tanah, gelombang radio frekuensi tinggi dapat digunakan untuk mengirimkan informasi, namun di bawah air, sinyal harus melewati air dan terjadi redaman yang tak dapat diatasi. Ketidakmampuan UAV atau penyelam dalam melakukan komunikasi menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang tak dapat dihindari. Inovasi mengenai alat komunikasi bawah air menjadi sangat penting untuk mengatasi permasalahan keterbatasan komunikasi bawah air guna menghindari kecelakaan pada saat menyelam.  Underwater Visible Light Communication (UVLC) adalah sebuah sistem komunikasi yang memanfaatkan cahaya tampak sebagai media dalam komunikasi di bawah air. Terdapat beberapa penelitian yang membahas mengenai VLC [2-13], namun penelitian sebelumnya lebih focus kepada penelitian VLC di bawah air (UVLC), baik menggunakan dana mandiri maupun dana hibah internal dan eksternal, dengan penelititian terakhir mengenai Implementasi Sistem Komunikasi Speech Simplex menggunakan Visible Light Communication (VLC) dengan sumber dana dari RISTEKDIKTI dengan skema penelitian hibah bersaing. Penelitian mengenai Teknologi ini dilanjutkan dengan area transportasi bawah air pada tahun 2018 sampai dengan 2020, dengan pendanaan dari RISTEKDIKTI dengan skema Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) yang berjudul Mulimedia Bidirectional Visible Light Communication untuk Transportasi Bawah Laut. Beberapa publikasi terkait dari tahun 2018 sampai dengan yang terbaru tahun 2024 di bidang Visible Light Communication (VLC) telah diterbitkan  [14-19]. Sedangkan Paten yang telah diterbitkan berjudul Alat Komunikasi Bawah Air Dua Arah Menggunakan Cahaya (Paten Sederhana dengan nomor IDS000009679) [20]. Penelitian yang telah dilakukan sudah sampai membangun sistem yang telah teruji di skala laboratorium, namun dirasakan masih perlu dioptimalkan menjadi sebuah prototype yang siap dikomersialisasikan, baik dalam aspek desain produk, aspek ergonomis, dan aspek ekonomis. Oleh karena itu, tujuan dan sasaran dari pengembangan prototipe ini adalah untuk menghasilkan sebuah prototipe yang siap dikomersialisasikan, baik dalam aspek desain produk, aspek ergonomis, dan aspek ekonomis.  Alat komunikasi ini terdiri atas tabung berbentuk bundar yang dilengkapi lampu Light Emitting Diode (LED) dan reflektor serta sensor cahaya pada bagian depannya. Suara yang dihasilkan menggunakan mikrofon dari suara manusia akan dikirimkan melalui kabel dan diproses menggunakan rangkaian diletakkan di dalam tabung, dan untuk selanjutnya dipancarkan menggunakan lampu LED yang berfungsi untuk mengkonversi sinyal listrik menjadi cahaya. Sinyal ini diperkuat pola pancarnya menggunakan reflektor yang menjadi satu bagian dengan lampu tersebut. Suara yang ditumpangkan kepada cahaya lampu akan diterima oleh alat pasangannya melalui sensor cahaya, dimana sensor ini berfungsi mengkonversi sinyal dari cahaya menjadi listrik. Sinyal yang diterima akan diproses menggunakan rangkaian penerima yang terdapat di dalam tabung dan dialirkan melalui kabel menuju speaker sehingga terdengar suara pembicara dari sisi lain. Dengan demikian, dengan menggunakan alat ini seseorang dapat bercara satu sama lain secara dua arah tanpa menunggu orang di sisi lain berhenti berbicara memanfaatkan metoda bidirectional menggunakan filter warna. Invensi ini menggunakan LED dengan daya tinggi (HPL) tunggal dengan diameter reflektor 52 mm. Lampu LED dan reflektor diposisikan di tengah alat komunikasi dengan sensor cahaya berukuran 5 mm yang berjumlah 38 buah dirancang mengitari lampu dan reflektor. Sampai saat ini sistem telah terbangun dengan hasil baik yang dibuktikan dari beberapa publikasi, namun untuk dapat diterapkan di bawah air masih butuh pengoptimalan, khsususnya interkoneksi dengan masker anti air yang memiliki mikrofon dan speaker. Hal tersebut menjadi salah satu target dari pengambangan prototipe, disamping aspek komersialiasai yang lain. 
OUTSOLE PRODUK ALAS KAKI "KELAWI" (KELOM AWI) KONTEMPORER BERKONSTRUKSI BAMBU LAMINASI DENGAN PENINGKATAN KUALITAS DESAIN DAN EFEKTIFITAS PRODUKSI

OUTSOLE PRODUK ALAS KAKI "KELAWI" (KELOM AWI) KONTEMPORER BERKONSTRUKSI BAMBU LAMINASI DENGAN PENINGKATAN KUALITAS DESAIN DAN EFEKTIFITAS PRODUKSI

Mohamad Arif Waskito, S.Sn., M.Ds., Yusril Irwan, S.T., M.T., Rasim Andri, Muhammad Rizkhan, Fikri Robin Firmansyah, Daegal Muhammad Mecca Al Akbar, Nadila Sri Wahyuni, Nafa Ul-Zahra

Produk local Indigenous seperti alas kaki “kelom geulis” merupakan salah satu produk budaya nusantara yang dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi alat promosi kekayaan budaya bangsa. Maka untuk mendukung hal tersebut, telah di...

OUTSOLE PRODUK ALAS KAKI "KELAWI" (KELOM AWI) KONTEMPORER BERKONSTRUKSI BAMBU LAMINASI DENGAN PENINGKATAN KUALITAS DESAIN DAN EFEKTIFITAS PRODUKSI

Mohamad Arif Waskito, S.Sn., M.Ds., Yusril Irwan, S.T., M.T., Rasim Andri, Muhammad Rizkhan, Fikri Robin Firmansyah, Daegal Muhammad Mecca Al Akbar, Nadila Sri Wahyuni, Nafa Ul-Zahra

Produk local Indigenous seperti alas kaki “kelom geulis” merupakan salah satu produk budaya nusantara yang dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi alat promosi kekayaan budaya bangsa. Maka untuk mendukung hal tersebut, telah dilakukan penelitian awal yang menghasilkan sebuah produk outsole alas kaki ekperimental yang merupakan pengembangan dari produk alas kaki tradisional masyarakat Tasikmalaya, yaitu kelom geulis. Inovasi yang dihasilkan dari penelitian tersebut adalah ditemukannya potensi sifat mekanis yang mempengaruhi mampu bentuk pada struktur bambu laminasi dan keunikan karakter visual serat bambu ketika diaplikasikan pada bagian outsole produk alas kaki “kelom awi” (kelom: sandal, awi: bambu).   Produk “kelom awi”eksperimental berbahan bambu laminasi dinilai memiliki potensi pasar yang cukup baik, khususnya untuk konsumen yang apresiatif terhadap produk yang menggunakan bahan ramah lingkungan sebagai bahan baku seperti penggunaan material serat alam, bahan daur ulang, hingga bahan biodegradeable. Disamping itu potensi pasar yang lain adalah kelompok sosial yang ingin melestarikan kekayaan budaya bangsanya melalui penggunaan produk-produk yang dihasilkan dari pengembangan produk-produk fesyen tradisionalnya, seperti yang terjadi pada produk budaya kain batik, tenun tradisional, hingga produk sandal tradisional seperti “kelom geulis”, atau pun “tarumpah datuk”. “Kelom awi” yang berbahan bambu laminasi diyakini memiliki nilai komersial tinggi karena keberadaan produk tersebut selaras dengan tren global ke arah green economic dan sustainable product yang sedang berkembang. Inovasi dan keunikan struktur bambu laminasi merupakan salah satu unsur yang dapat meningkatkan nilai fungsional dan ekonomi produk “kelom awi” tersebut. Pengembangan produk-produk yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan diharapkan dapat diterima sebagai sebuah komoditi ekonomi yang potensial dan mampu memberikan peluang usaha baru di bidang industri manufaktur berbahan alam. Keberadaannya dapat menjadi produk alternatif bagi para perajin bambu, juga dapat menjadi peluang usaha baru yaitu menjadi supplier komponen outsole alas kaki yang biasanya menggunakan bahan kayu atau bahan plastik.  Pada riset lanjutan ini hal yang ditingkatkan adalah peningkatan TKT dimana produk prototype yang telah dihasilkan dalam skala laboratorium tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang siap diproduksi masal dan dipasarkan melalui peningkatan efektifitas produksi dan kelayakan daya serap pasarnya. Maka untuk kepentingan tersebut, penelitian ini akan fokus pada pembuatan alat/mesin produksi tepat guna yang mampu mempercepat proses produksi, perumusan konsep pengembangan desain, dan penyusunan strategi pemasarannya.
REAKTOR PIROLISIS BERBASIS NANOMINERAL ASBUTON

REAKTOR PIROLISIS BERBASIS NANOMINERAL ASBUTON

Dr.rer.nat. Riny Yolandha Parapat, S.T., M.T., M.Sc., Muhammad Pramuda Nugraha S., S.T., M.T., Dr. Jasman Pardede, S.Si., M.T., Lastari Meiwiyanti, Elsa Tenrilawa Nasution

Pemerintah Indonesia mengamanatkan dan mewajibkan pemanfaatan Asbuton semaksimal mungkin karena, pemanfaatan Asbuton masih minim(1). Proyek ini menawarkan solusi inovatif dalam pemanfaatan Asbuton untuk pengembangan energi alternatif. Inovasi ini men...

REAKTOR PIROLISIS BERBASIS NANOMINERAL ASBUTON

Dr.rer.nat. Riny Yolandha Parapat, S.T., M.T., M.Sc., Muhammad Pramuda Nugraha S., S.T., M.T., Dr. Jasman Pardede, S.Si., M.T., Lastari Meiwiyanti, Elsa Tenrilawa Nasution

Pemerintah Indonesia mengamanatkan dan mewajibkan pemanfaatan Asbuton semaksimal mungkin karena, pemanfaatan Asbuton masih minim(1). Proyek ini menawarkan solusi inovatif dalam pemanfaatan Asbuton untuk pengembangan energi alternatif. Inovasi ini mengintegrasikan proses pirolisis dengan pemanfaatan nanomineral berbasis Asbuton sebagai nanokatalis in-situ untuk mengubah batuan Asbuton menjadi minyak mirip diesel premium. Nanomineral diperoleh melalui proses top-down dari batuan Asbuton itu sendiri, sehingga mengurangi kebutuhan katalis eksternal dan mengefisienkan proses produksi bahan bakar alternatif. Melalui pendekatan ini, Asbuton tidak hanya berfungsi sebagai material konstruksi, tetapi juga dikembangkan sebagai bahan bakar cair sejenis diesel melalui proses pirolisis katalitik yang efisien dan ramah lingkungan. Proses dalam inovasi ini sudah dipatenkan(2) dan dipublikasikan oleh ketua pengusul(3). Nanomineral Asbuton yang dihasilkan memiliki karakteristik katalitik yang mampu menurunkan suhu pirolisis dan meningkatkan selektivitas terhadap fraksi bahan bakar cair(2). Keunggulan proses ini adalah tidak memerlukan katalis eksternal, sehingga menurunkan biaya operasional dan menjadikan teknologi ini lebih berkelanjutan. Produk utama berupa minyak mirip diesel diharapkan dapat digunakan sebagai bahan bakar substitusi untuk sektor industri dan transportasi, sementara produk sampingan seperti char dan gas juga memiliki nilai guna tambahan(4). Potensi pengguna dari teknologi ini meliputi industri energi, kontraktor jalan, pemerintah daerah di wilayah penghasil Asbuton, hingga UMKM berbasis energi alternatif. Nilai komersial dari proyek ini cukup tinggi karena menggunakan sumber daya lokal dengan pendekatan teknologi yang dapat diadopsi secara luas, baik dalam skala kecil maupun besar. Selain itu, proyek ini sejalan dengan agenda nasional dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta peningkatan ketahanan energi berbasis kearifan lokal(5). Secara teknis, proyek akan mencakup tahap karakterisasi bahan baku, sintesis nanomineral, desain dan pembangunan prototipe reaktor pirolisis berbasis nanomineral, hingga tahap uji performa dan analisis kualitas produk. Prototipe ini diharapkan menjadi model awal yang dapat direplikasi untuk produksi massal, membuka peluang hilirisasi teknologi serta kemitraan dengan sektor swasta maupun pemerintah daerah.