SINERGI VALUASI RISET DAN INOVASI, PUSAT RISET BRIN LAKUKAN KUNJUNGAN STRATEGIS KE LPPM ITENAS
LPPM ITENAS, BRIN, KUNJUNGAN STRATEGIS, RISET DAN INOVASI
Sinergi Valuasi Riset dan Inovasi, Pusat Riset BRIN Lakukan Kunjungan Strategis ke LPPM Itenas
Bandung, 27 Agustus 2026 – Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung menerima kunjungan kerja dari Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis, 27 Agustus 2026. Bertempat di kampus Itenas, rombongan BRIN yang terdiri dari 11 orang tersebut melaksanakan pertemuan strategis dengan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itenas.
Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan riset nasional yang mengusung tema "Valuasi Riset dan Inovasi Berbasis Industri dan Komoditas untuk Investasi Strategis Nasional yang Berkelanjutan". Tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai portofolio riset, paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang telah dihasilkan oleh sivitas akademika Itenas.
Turut hadir dalam pertemuan ini Wakil Kepala LPPM Itenas Bidang Penelitian, Dr. Arsyad Ramadhan Darlis, S.T., M.T., Wakil Kepala LPPM Itenas Bidang Inovasi, Fahmi Arif, S.T., M.T., Ph.D., beserta jajaran dosen Itenas.
Nantinya, data dan inovasi yang dihimpun dari Itenas akan digunakan sebagai bahan pemetaan pohon industri dan valuasi ekonomi hasil riset dalam kerangka kerja PRIS 2.
Dalam diskusi intensif tersebut, terdapat beberapa ruang lingkup pembahasan utama yang dieksplorasi oleh kedua belah pihak, di antaranya:
-
Profil dan portofolio riset unggulan Itenas, khususnya yang relevan dengan sektor industri berbasis komoditas seperti kelapa sawit, kopi, ekaliptus, serta pulp and paper.
-
Status paten, HKI, dan kesiapan komersialisasi riset, termasuk pemetaan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) terkini untuk masing-masing HKI beserta profil mitra industrinya.
-
Data pendukung untuk keperluan valuasi ekonomi, meliputi estimasi biaya riset dan pengembangan, proyeksi manfaat ekonomi dari komersialisasi teknologi, hingga riwayat transaksi lisensi teknologi sebelumnya.
-
Diskusi mengenai alih teknologi, termasuk identifikasi hambatan utama yang dihadapi peneliti dalam menaikkan TKT dari tahap prototipe laboratorium (TKT 6) menuju tahap teruji di lingkungan operasional (TKT 9).
-
Kebutuhan dukungan dari BRIN maupun mitra eksternal untuk mempercepat alih teknologi, seperti fasilitasi pendanaan, uji coba, maupun sertifikasi.
Kunjungan kerja yang diinisiasi melalui permohonan resmi dari Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara lembaga periset nasional dan perguruan tinggi. Melalui kolaborasi dan pertukaran informasi ini, diharapkan proses alih teknologi dan hilirisasi inovasi kampus dapat dipercepat, sehingga mampu memberikan kontribusi dan dampak ekonomi yang nyata bagi industri strategis di Indonesia. (Humas)