previous arrow
next arrow
Shadow
Slider

Home »  berita »  Seminar Nasional Teknik Kimia “Waste is Economical”

Seminar Nasional Teknik Kimia “Waste is Economical”

On October 13, 2019, Posted by , In berita, By ,, , With Comments Off on Seminar Nasional Teknik Kimia “Waste is Economical”

Himpunan Teknik Kimia (HMTK) mengadakan acara seminar nasional dengan tema pada “Waste is Economical” yang diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober 2019 kemarin. Acara ini merupakan kegiatan tahunan yang diadakan setiap tahun dengan tema yang berbeda.

Seminar Nasional terbuka untuk umum yang berlokasi di Gedung Fakultas Lantai 3 (14301) Itenas ini dimulai pada pukul 08.00 -16.00 WIB dengan mengundang tiga pembicara profesional di bidang pengolahan limbah. Pemateri yang diundang dalam Seminar Nasional ini antara lain Ibrahim Syaharuddin S.T., M.T, Adri Kristian S.T., M.T dan Dr. Syamsudin, S.T., M.Si.

Ibrahim Syaharuddin S.T., M.T merupakan alumni sarjana dan magister Teknik Mesin di Itenas yang sekarang menjabat sebagai Direktur di PT. Introdief Energi Mandiri, Bandung. Sedangkan pemateri kedua Adri Kristian, S.T., M.T merupakan alumni sarjana dan magister Teknik Kimia ITB yang saat ini menjabat sebagai General Manager Operasional pada PT. Pasadena Engineering Indonesia (PEI), Pasadena Groups. Pemateri ketiga adalah Dr. Syamsudin, S.T., M.Si merupakan alumni sarjana Teknik Kimia UGM, magister Bioteknologi UI dan doktoral Teknik Kimia ITB yang sekarang menjabat sebagai Peneliti Muda Bidang Teknologi Bioenergi Balai Besar Pulp dan Kertas, Kementerian Perindustrian.

Acara seminar nasional yang dibuka oleh Ketua Jurusan Teknik Kimia, Jono Suhartono, S.T., M.T., Ph.D ini memberikan banyak manfaat untuk peserta yang hadir. Materi mengenai Peluang Pengolahan Sampah dan Konversi Biomassa Menjadi Bioenergi yang disampaikan oleh Bapak Ibrahim Syaharuddin menunjukkan bagaimana pembangunan Indonesia ke masa depan. Pembangunan Indonesia yang mengarah ke energi terbarukan memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi. Biomassa bisa dikonversi langsung menjadi bahan bakar untuk mensubstitusi atau mengganti BBM fosil. Produksi bahan bakar dan listrik dari biomassa dapat mengeksploitasi sumber daya lokal dan dapat langsung meningkatkan pendapatan penduduk lokal. Industri pertanian atau perkebunan merupakan industri surplus energi. Selain itu, industri bioenergi memiliki keterkaitan  dan daya saling-dukung yang kuat dengan industri-industri pangan serta material dan bahan-bahan kimia terbarukan.

Pemateri kedua yang memaparkan Bioenergi : Energi untuk Negeri Dari Limbah Berbahaya Menjadi Cahaya (Pembangkit Listrik Tenaga Biogas Limbah Cair Sawit) membuat peserta seminar semakin tertarik. Indonesia yang memiliki lahan yang luas dapat dijadikan perkebunan dan tanaman industri seperti sawit, kelapa, jagung, padi dan lain lain. Limbah dari perkebunan dan tanaman industri dapat digunakan untuk sumber energi terbarukan. Salah satu perusahaan yang mengelola energi terbarukan adalah PT. PEI yang berpengalaman dalam implementasi teknologi, khususnya pemanfaatan sumber daya alam lokal Indonesia. Ruang lingkup pekerjaan EPC (engineering, procurement, construction) pada PT. PEI adalah mengelola pabrik-pabrik berbasis bioenergi dan pemberian nilai tambah dari sumber daya alam lokal; beberapa di antaranya adalah pembangunan pabrik-pabrik bioetanol, pembangkit listrik bertenaga biogas, gasifikasi, serta produk-produk turunan gondorukem dan terpentin.

Materi mengenai Konversi Limbah Di Industri Pulp Dan Kertas Menjadi Energi Terbarukan diberikan oleh pemateri ketiga yaitu Dr. Syamsudin, S.T., M.Si. Produksi minyak bumi diperkirakan akan terus menurun sekitar 4,0% per tahun sedangkan kebutuhan BBM (termasuk biodiesel) meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,7% per tahun dan kebutuhan gas bumi sebagai energi final selama kurun waktu 2016-2050 diperkirakan tumbuh rata-rata 6,3% per tahun hingga mencapai hampir 8 kali lipat pada tahun 2050 membuat para peneliti muda seperti Bapak Syamsudin mencari alternatif energi. Energi yang dibutuhkan di industri besar seperti industri pulp dan kertas sudah menggunakan limbahnya untuk bahan bakar alternatif. RPF  (Refuse Paper dan Plastic Fuel) adalah bahan bakar padat berkualitas tinggi yang dibuat terutama dari kertas bekas dan limbah plastik. Di Jepang dan di beberapa negara Eropa, RPF digunakan sebagai bahan bakar untuk peningkatan pembakaran untuk insinerator pabrik kertas skala besar, perusahaan baja, perusahaan batu bara, dan berkontribusi pada langkah-langkah penghematan energi.

Seminar nasional Teknik Kimia ini dirasa sangat bermanfaat untuk seluruh peserta yang hadir. Para peserta yang tertarik dalam pemanfaatan dan pengolahan limbah menjadi bioenergi menjadi antusias mengikuti seminar hingga akhir acara. Harapannya, ilmu yang diberikan dapat diaplikasikan para peserta untuk membangun masa depan Indonesia. [Vibianti Dwi P/TK; Foto: HMTK]

X