ITENAS GELAR SOSIALISASI KKN TEMATIK GRADASI LLDIKTI IV "ITENAS RESIK 2026": SOLUSI MULTIDISIPLIN ATASI DARURAT SAMPAH BANDUNG

SOSIALISASI, KKN TEMATIK, LLDIKTI WILAYAH IV, ITENAS RESIK

Itenas Gelar Sosialisasi KKN Tematik Gradasi LLDIKTI IV "ITENAS RESIK 2026": Solusi Multidisiplin Atasi Darurat Sampah Bandung

Bandung, 27 Oktober 2026 – Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung menggelar Sosialisasi dan Pembekalan KKN Tematik Gradasi LLDIKTI Wilayah IV bertajuk "ITENAS RESIK (Reduksi Edukasi Seni Inovasi Kelola Sampah) untuk Kecamatan Bandung Kulon dan TPA Sarimukti" pada Selasa, 27 Oktober 2026. Acara yang bertempat di kampus Itenas ini ditujukan bagi dosen dan mahasiswa yang akan berpartisipasi langsung dalam program strategis tersebut.

 

Kegiatan penting ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan tamu undangan lintas instansi, antara lain Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Umum (WRSDU) Itenas, Dwi Aryanta, S.T., M.T., Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Madya dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Dra. Nenden Naeni Kurniati, M.M., perwakilan (PKBS) DLH Kota Bandung, Ayu Kusuma, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan sekaligus Ketua Tim Itenas Resik, Prof. Dr. Mohamad Rangga Sururi, S.T., M.T., Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain, Rosa Karnita, S.Sn., M.Sn., Ph.D., Kepala LPPM Itenas, Dr. Eng. Didin Agustian Permadi, S.T., M.Eng., para Ketua Program Studi (Kaprodi), para Person in Charge (PIC) dan dosen pembimbing, serta seluruh mahasiswa peserta dari berbagai prodi di lingkungan Itenas.

 

Acara pembekalan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Umum (WRSDU) Itenas, Dwi Aryanta, S.T., M.T. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang menginisiasi perhelatan ini. "Acara ini diinisiasi oleh LLDIKTI IV sebagai wujud nyata bahwa perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menjawab tantangan darurat sampah saat ini. Itenas berkomitmen penuh mendukung program Dikti dengan menerjunkan sekitar 600 mahasiswa duta dari 14 program studi untuk mengaplikasikan serta mengembangkan potensi mereka. Hal ini sejalan dengan tagline Dikti yaitu 'Kampus Berdampak', di mana mahasiswa hadir dan memberikan dampak nyata secara langsung bagi masyarakat, khususnya dalam penanganan masalah sampah," ujarnya.

 

Setelah sesi pembukaan dan paparan umum usai, sesi pembekalan untuk masing-masing program studi dilaksanakan secara paralel. Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) berkumpul di Gedung Serba Guna (GSG) Bale Dayang Sumbi, sedangkan mahasiswa Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) melangsungkan sesi pembekalan di Gedung Perpustakaan Itenas.

 

Pada sesi pemaparan utama, Dekan FTSP sekaligus Ketua Tim Itenas Resik, Prof. Dr. Mohamad Rangga Sururi, S.T., M.T., menjelaskan latar belakang transformasi program nasional ini di tingkat kampus. "Program Gradasi ini kami transformasikan menjadi ITENAS RESIK dengan menggalang kolaborasi lintas disiplin ilmu dari 14 program studi yang ada di Itenas. ITENAS RESIK mengusung konsep ekosistem terpadu yang melibatkan seluruh keahlian program studi, yang mencakup tiga pilar utama: Sustainable Planning and Infrastructure, Circular Economy and Community Solution, serta Technological Innovation and Processing," tegasnya.

 

Melanjutkan materi teknis, Kepala LPPM Itenas, Dr. Eng. Didin Agustian Permadi, S.T., M.Eng., bersama Prof. Rangga menyoroti urgensi krisis sampah regional. TPA Sarimukti diproyeksikan mengalami peningkatan kapasitas hingga penuh (overcapacity) pada November 2026, sementara TPA Regional Legok Nangka diperkirakan baru siap beroperasi pada 2030. Dalam jangka pendek dan menengah, beliau menekankan beberapa poin krusial yang dapat dan harus dilakukan oleh Itenas di area TPA. "Apa yang bisa dilakukan oleh Itenas adalah mendorong strategi penguatan di zona-zona yang ada, terutama Zona 3 dan 4 melalui upaya landfill mining agar lahan yang tersedia kembali dapat digunakan dan memperpanjang umur pemakaian TPA. Selain itu, opsi pemulihan juga mencakup analisis stabilitas tumpukan sampah saat ada penambahan di zona baru (Zona 5) untuk mencegah potensi longsor, optimalisasi kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) leachate, hingga monitoring serta pengelolaan gas metana secara berkelanjutan,"  paparnya.

 

Di sisi lain, dengan tingkat timbulan sampah Kota Bandung yang mencapai 1.600 ton per hari dan proporsi sampah organik sebesar 60 persen, intervensi di tingkat hulu menjadi sangat krusial. Melalui ITENAS RESIK, paradigma pengelolaan sampah didorong untuk berubah total dari pola lama kumpul-angkut-buang menjadi pemilahan dan pengolahan langsung di sumber guna membuka peluang ekonomi sirkular (circular economy).

 

Program ini mengusung sinergi multidisiplin yang melibatkan 14 program studi lintas tiga fakultas di lingkungan Itenas Bandung. Dari Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Informatika, Sistem Informasi, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, dan Teknik Kimia bekerja sama mengembangkan sistem SIM ITENAS RESIK, perangkat IoT, sensor mikrokontroler tempat sampah, pemadat botol pedal, hingga pengolahan biowaste dan biogas. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan mengintegrasikan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Geodesi, Teknik Sipil, serta Teknik Lingkungan untuk mengampu pemetaan drone dan WebGIS, perencanaan partisipatif warga, DED TPS 3R, pemanfaatan paving block daur ulang, hingga audit timbulan sampah. Sementara itu, Fakultas Arsitektur dan Desain menerjunkan Program Studi Arsitektur, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, dan Desain Produk guna merancang zonasi buffer, tata ruang TPS ergonomis, produk daur ulang bermutu, serta kampanye edukasi 3R.

 

Sebagai bentuk aksi nyata di lapangan, tim mahasiswa dan dosen pendamping akan melanjutkan kegiatan pada Rabu, 28 Oktober 2026, di TPST Gempolsari, Kelurahan Gempolsari, Kota Bandung. Kegiatan penjangkauan lapangan tersebut berfokus pada Pengukuran Timbulan, Komposisi, dan Karakteristik Sampah Berdasarkan SNI 3964:2025. Proses pemilahan akan dibagi menjadi empat kategori utama, yaitu sampah organik, anorganik bernilai jual, sampah B3 rumah tangga, dan sampah residu.

 

Prof. Dr. Rangga Sururi menyimpulkan pemaparan dengan mengutip pandangan bahwa strategi adalah tentang membuat pilihan, dan strategi yang baik dimulai dengan memiliki tujuan yang tepat. Melalui keterlibatan aktif seluruh civitas akademika, program ITENAS RESIK diharapkan mampu membawa Itenas semakin inovatif dan kolaboratif dalam menghadirkan solusi nyata bagi kemajuan dan kelestarian lingkungan di Jawa Barat. (Humas)

Berita Lainnya